BAB 2
TUJUAN DAN STRATEGI PERUSAHAAN
Tujuan digunakan
untuk menyatakan rumusan yang luas dan tidak terbatas waktu tentang apa yang
ingin dicapai organisasi.
Sasaran
digunakan untuk menyatakan rumusan hasil akhir yang lebih spesifik, pencapaian
yang harus terwujud dalam batas waktu tertentu.
Tujuan mendahului strategi
dalam proses perencanaan strategik
Sasaran digunakan dalam proses
pengendalian manajemen untuk melaksanakan strategi.
Pada mulanya, ketika organisasi
dibentuk, proses perencanaan strategik digunakan untuk memilih tujuan dan
strategi. Kemudian, ini digunakan untuk memilih kebijakan dan program-program
tindakan umum dan bila diperlukan untuk merumuskan kembali tujuan dan
menyelesaikan strategi.
Contoh Kasus:
“Mc Donald menentukan sasaran membuka sejumlah X toko fastfood tahun depan. Perusahaan
menetapan mencapaian volume penjualan sebesar Y juta dollar dalam 5 tahun dari
sekarang.
Jika sasaran dirumuskan sepert tadi secara
periodik, maka Sistem Pengendalian Manajemen dapat mengukur tingkat
pencapaiannya
Strategi.”
Strategi
menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan merupakan
pedoman untuk mengalokasikan sumberdaya dan usaha organisasi (Tzunsu, Hannibal, Clausewitz))
Strategi
manajemen adalah suatu proes yang dirancang secara sistematis oleh manajemen
untuk merumuskan strategi, menjalankan, dan mengevaluasi strategi dalam rangka
menyediakan nilai-nilai yang terbaik bagi seluruh pelanggan untuk mewujudkan
visi organisasi (Hariadi).
Strategi adalah
jalan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk mencapai target keuangan dan
posisi strategis.
Empat frasa penting strategi manajemen
- Suatu proses yang terdiri atas beberapa langkah
terencana yang melibatkan manajemen dalam organisasi mulai pimpinan
tertinggi sampai karyawan terbawah.
- Proses digunakan untuk merumuskan visi dan misi,
menetapkan tujuan strategi dan memilih stategi yg cocok untuk mencapai
tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.
- Proses digunakan sebagai landasan untuk menjalankan
strategi demi menyediakan customer value terbaik.
- Pelaksanaan strategi harus selalu dievaluasi untuk
menilai apakah hasil yg dicapai sesuai dengan rencana dan perkembangan
terbaru.
Tingkatan Strategi
- Strategi Korporasi, menggambarkan arah keseluruhan
perusahaan secara umum terhadap pertumbuhan dan pengelolaan bermacam-macam
unit bisnis maupun variasi produk yang dihasilkan perusahaan.
- Strategi unit bisnis, diarahkan kepada pengelolaan
kegiatan dan operasi suatu bisnis tertentu
- Strategi Fungsional, strategi dalam kerangka
fungsi-fungsi manajemen (terdiri atas Researct & Development,
keuangan, produksi, dan lain-lain) yang dapat mendukung strategi level
unit bisnis
Variabel-variabel kunci
Variabel kunci
dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksternal dan internal.
Variabel kunci
internal pada dasarnya merupakan titik-titik resiko dalam keseluruhan sistem
dan suatu organisasi tempat kegiatan-kegiatan dapat lepas kendali atau
menyimpang dari rencana manajemen.
Adappun variabel
kunci eksternal adalah faktor-faktor yang sebagian besar diluar kendali
langsung organisasi. Terhadap variabel-variabel ini seperti, elastisitas
permintaan terhadap harga produk atau laju perkembangan teknologi suatu produk
atau proses, organisasi harus lebih berusaha menyesuaikan diri daripada
mengubahnya.
Banyak cara yang
digunakan oleh organisasi agar keberadaanya tetap unggul. Walaupun secara teori
ada yang menyebutkan siklus hidup suatu organisasi, namun salah satu hal yang
dijadikan prinsip oleh usahawan adalah going concern atau
keberlanjutan. Artinya organisasi selalu terus berupaya agar keberadaanya tidak
mengalami penurunan, namun selalu memperbaharui agar dapat hidup terus. Untuk
dapat hidup terus tentunya organisasi harus dapat bersaing dengan organisasi
lain baik yang sejenis ataupun tidak sehingga tidak ditinggal oleh customer.
Langkah strategis yang diambil diantaranya harus memiliki efektifitas dan
keunggulan dalam organisasi mereka sehingga keberadaanya menjadi lebih kuat dan
kokoh.
Paradigma baru
dalam ilmu manajemen mengakui kesadaran yang meliputi pengembangan dunia secara
alamiah dan hal itu yang mendasari pentingnya transformasi organisasi (Heaton
dan Harung 1999, 157). Menurutnya ada tujuh sifat yang mendasari kesadaran
organisasi;
efficiency on a par with nature's
principle of least action, spontaneous and frictionless coordination, creative
inspiration akin to artistic genius, doing well by doing good: prosperity and
social value, harmony with the natural environment, spontaneous change in an
evolutionary direction, and leadership which promotes full human development.
Hal tersebut
dapat dianalogikan “back to the nature” dari suatu organisasi tentunya
setelah mengalami proses akal, mental/ emosional dan spiritual (Agustian
2002). Sehingga wajar sekali jika organisasi dapat memiliki nilai-nilai
tiga tingkat kesadaran tersebut akan dapat tetap unggul. Tiga tingkat kesadaran
manusia tersebutmenurut Bastaman 1995 yang dikutip Triyuwono 2003, 3
adalah suatu yang penting untuk dapat dipahami dan dipraktekan sehingga tujuan
keberhasilan secara alamiah yaitu manusia dan organisasi akan tercapai dan
langgeng tidak hanya secara material namun juga secara non material (bahagia,
tentram, aman).
Menurut
Bollinger dan Smith 2001, 8
“managing
organizational knowledge as a strategic asset “ adalah penting sekali
guna memelihara keberlanjutan dari competitve advantage.
Jadi
mangatur organizational knowledge ternyata memiliki aspek yang
kritis dalam sebuah organisasi dalam kaitannya menjadi organisasi yang unggul
dan tetap memelihara keunggulannya.
Organizational
knowledge salah satu aspeknya yang erat kaitannya adalah organization’s
intellectual capital (Robinson dan Kleiner 1996, 36) yang dapat juga sebagai
konsep kepemilikan intelektual, seperti halnya patents dan licencies yang
tentunya sangat berharga dan besar kontribusinya untuk keunggulan organisasi.
Dengan modal
intelektual organisasi maka segala permasalahan dapat diharapkan segera
diselesaikan dengan baik dan cepat, apalagi di era globalisasi ini yang
menuntut serba cepat dan efesien dari sisi biaya sebagai pertimbangan utamanya.
Oleh karena itu, dalam organisasi aspek komunikasi jelas mengandung biaya
apalagi yang menggunakan sistem sentralisasi. Intranet adalah salah satu jalan
keluar untuk dapat mengurangi dampak biaya komunikasi organisasi dan juga lebih
efisient (Yen dan Chou 2001, 80).
Sesuai dengan
modal intelektual organisasi yang diharapkan dapat ada dan selalu ditingkatkan
dalam sebuah organisasi maka hal yang sangat perlu dilakukan oleh organisasi
itu sendiri adalah pembelajaran organisasi. Melalui individu-individu dan group dalam
suatu organisasi sangat penting untuk belajar agar dapat berdampak kepada
lingkungan organisasi. Sehingga organisasi akhirnya juga harus belajar, baik
dengan lerning by doing, ataupun eksperimen, kesemuannya demi transfer
of knwoledge yang ujung-ujungnya organisasi memiliki competitive
advantage organisasi (Englihardt dan Simmons 2002, 39). Dalam
perusahaan manufaktur, pembelajaran organisasi dengan mengunakan management
by processmenunjukkan solusi yang inovatif dari organisasi dan menunjukkan
indikator performance yang secara sistematis sesuai dengan proses yang
mendasarinya bagi setiap industri manufaktur (Toni dan Tonchia 1996, 235).
Pembelajaran organisasi merupakan suatu yang
alamiah yang kadang organisasi moderen labih cenderung seperti mesin sehingga
melupakan proses alamiah ini (Cavaleri dan Fearon 2000, 251). Sebagai hasil
penelitiannya ternyata pembelajaran organisasi memberikan keuntungan bagi
organisasi karena ada potensial sinergi dan manajemen proyek dapat lebih
terintegrasi secara bersama. Guna mencapai learning organization menurut
Bettersby 1999, 58 maka langkah berikutnya yang dapat dilakukan oleh organisasi,
khususnya kepada anggota atau karnyawan adalah dengan melakukan Continuing
Profesional Education (CPE). Dengan melaksanakan CPE ini maka akan
dapat terjadi emancipatory and transformative imperativeterhadap learning
organization.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar